Gerakan ASRI, Dari Budaya Malu Menuju Budaya Rawat

by Bambang Irawan
Intisarinews.co.id–Kita sering mendengar keluhan tentang sampah. Tapi siapa yang benar-benar turun tangan? Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah momentum untuk menggeser cara pandang kita: dari sekadar membuang sampah, menjadi merawat lingkungan.
Selama ini, banyak dari kita berpikir bahwa kebersihan adalah urusan petugas kebersihan atau pemerintah semata. Padahal, setiap helai sampah yang kita pungut, setiap kali kita memilah sampah rumah tangga, itu adalah doa untuk masa depan anak cucu kita.
Sungai Mesuji yang mengalir membelah bumi kita bukan tempat sampah raksasa. Ia adalah anugerah. Jika bersih, ia bisa menjadi sumber penghidupan dan kebanggaan wisata. Jika kotor, ia akan menjadi warisan buruk yang kita tinggalkan.
Gerakan ASRI mengajak kita kembali ke fitrah: gotong royong. Bukan karena ada lomba atau proyek, tapi karena kita malu melihat lingkungan kumuh. Kita perlu menumbuhkan kembali budaya malu —malu membuang sampah sembarangan, malu jika pekarangan sendiri tidak terawat, malu jika sungai kampung sendiri tercemar.
Tapi tak cukup berhenti di rasa malu. Kita harus naik kelas menuju budaya rawat. Merawat bukan hanya membersihkan, tapi juga menjaga, mengolah, dan menjadikan sampah sebagai berkah. Sampah organik bisa jadi kompos, sampah anorganik bisa didaur ulang, bahkan menjadi sumber ekonomi.
Pemerintah hadir memfasilitasi, tapi tangan Andalah yang menentukan. Hari ini kita mulai. Besok kita lanjutkan. Lusa jadi kebiasaan. Dari Desa Wiralaga 1, Wiralaga 2, hingga ke seluruh Mesuji.
Karena ASRI bukan impian. ASRI adalah pilihan. Pilihan kita hari ini untuk Mesuji yang lebih indah esok hari.(“)

Loading

Related posts

Leave a Comment