Kenangan untuk Nanang Trenggono: Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998

Ditulis oleh Mahendra Utama, Eksponen 98 DUKA Kabar duka datang di Rabu kelam, Nanang Trenggono, sang guru, telah berpulang. Syaraf kejepit merenggut nyawa, di RS Imanuel Bandar Lampung. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn Kita milik Allah, dan kepada‑Nyalah kita kembali. *Gelora 1996‑1998* Era itu, rezim masih menggigit, ABRI beringas, membungkam suara. SMID dan PRD diburu, dituduh makar, kami, aktivis kampus, bagai tawanan di lorong gelap. Tapi semangat tak bisa dipenjara, demonstrasi, selebaran, diskusi bawah tanah kami berjuang untuk reformasi, untuk kebebasan yang belum terjamah. *Sang Dosen Pembela* Di tengah…

Loading

Read More