BENGKULU, Intisarinews.co.id – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan gagasan besar untuk membawa organisasi Islam terbesar di Indonesia itu semakin kuat dan relevan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Melalui visi “NU Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat”, ia menegaskan pentingnya memperkuat peran NU tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri organisasi.
Menurut Gus Rozin, proses pergantian kepemimpinan di tubuh PBNU tidak semata-mata menjadi agenda regenerasi organisasi, melainkan momentum strategis untuk memperkuat khidmah kepada umat, menjaga persatuan, serta meningkatkan kontribusi NU bagi bangsa dan peradaban dunia.
Putra Rais Aam PBNU almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh ini tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan dan pengabdian. Pendidikan yang ditempuh mulai dari pesantren, perguruan tinggi Islam, hingga Monash University Australia membentuk karakter kepemimpinannya yang memadukan nilai-nilai tradisi dengan tata kelola organisasi modern.
Pengalaman organisasi Gus Rozin juga terbilang lengkap. Ia pernah mengemban sejumlah jabatan penting, di antaranya Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Katib Syuriah PBNU, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, Ketua Majelis Masyayikh, serta berbagai amanah strategis lainnya di tingkat nasional.
Dalam visi yang diusungnya, Gus Rozin menegaskan pentingnya memperkuat posisi NU sebagai jam’iyyah diniyyah islamiyyah ijtimaiyyah yang mampu menghadirkan kemaslahatan bagi Indonesia dan masyarakat dunia.
“Memasuki abad kedua bukan berarti meninggalkan warisan para muassis, melainkan memperkuat fondasi yang telah dibangun agar NU mampu menjawab tantangan baru di bidang sosial, ekonomi, politik, teknologi, dan hubungan global,” ujarnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Gus Rozin merumuskan tiga orientasi utama. Pertama, membangun NU yang berdaulat melalui tata kelola organisasi yang profesional, transparan, mandiri, dan berbasis partisipasi jamaah. Kedua, menghadirkan NU yang bermartabat melalui kepemimpinan yang menjunjung tinggi integritas, akhlak, musyawarah, serta penghormatan kepada ulama. Ketiga, mewujudkan NU yang bermanfaat melalui penguatan layanan pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, filantropi, ilmu pengetahuan, hingga pelayanan sosial sampai tingkat ranting.
Menurutnya, ketiga orientasi tersebut harus disatukan dalam semangat khidmah, yakni pengabdian yang ikhlas, profesional, kolektif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Sebagai landasan kepemimpinan, Gus Rozin menawarkan lima prinsip utama yang berpijak pada tradisi Nahdlatul Ulama, yaitu akhlakul karimah, musyawarah, keadilan (‘adalah), khidmah, dan maslahah.
“Memimpin dengan akhlak, bermusyawarah dalam mengambil keputusan, menegakkan keadilan dalam mengelola amanah, berkhidmah kepada jamaah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat merupakan fondasi kepemimpinan NU,” tegasnya.
Selain menawarkan visi dan prinsip kepemimpinan, Gus Rozin juga menyiapkan sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan Khittah 1926, pembangunan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, integrasi ekosistem pendidikan NU, penguatan kemandirian ekonomi organisasi, percepatan transformasi digital berbasis data, penguatan kaderisasi ulama dan kepemimpinan, hingga perluasan pelayanan sosial dan diplomasi global.
Melalui agenda transformasi tersebut, Gus Rozin berharap Nahdlatul Ulama dapat memasuki abad kedua sebagai organisasi yang semakin kokoh dalam tata kelola, mulia dalam kepemimpinan, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan masyarakat dunia.
“NU yang besar bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena kemampuannya untuk terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat di setiap zaman,” pungkasnya. (“/Man)
![]()
