Intisarinews.co.id — Langit Doha yang biasanya tenang dan berkilau oleh gemerlap gedung-gedung modern kini terasa berbeda. Sirene peringatan dan notifikasi darurat di telepon genggam menjadi bunyi yang paling ditunggu sekaligus ditakuti. Di tengah situasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ribuan warga negara Indonesia di Qatar hidup dalam kecemasan yang tak pernah benar-benar reda. Hani Shafa Fadillah, mahasiswi Prodi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, menjadi salah satu saksi hidup suasana mencekam itu. Sejak konflik memanas, ia belum bisa kembali ke Indonesia untuk mengikuti perkuliahan. Penerbangan dihentikan,…
![]()
