GELORA DENDAM DI AMERIKA

Intisarinews.co.id – TAHUN 1982 dua negara itu berseteru memperebutkan Pulau Malvinas (nama versi Argentina) atau Kepulauan Falkland (nama versi Inggris). Pulau kecil ini terletak di seberang laut Britania Raya, Samudera Atlantik Selatan, atau 480 km di lepas pantai timur Patagonia, Argentina.

Kedua negara bertempur 82 hari di pulau yang banyak dihuni kawanan Pinguin. Akhirnya Argentina menyerah pada Inggris tanggal 14 Juni 1982. Perang ini menewaskan 655 tentara Argentina dan 255 tentara Inggris.

 

Tahun 1986 atau empat tahun setelah kalah perang, Argentina membalas Inggris secara menyakitkan. Gol “Tangan Tuhan” Maradona menyingkirkan Inggris di perempat final Piala Dunia pada 22 Juni 1986. Skor 2 : 1, Inggris angkat koper. Meksiko saat itu menjadi tuan rumah.

 

Dua belas tahun berlalu dari Meksiko, perseteruan terjadi lagi. Pada Piala Dunia 1998 di Perancis, Argentina vs Inggris

di babak 16 besar. Inggris kalah (lagi) lewat drama adu pinalti (skor

3 : 4).

 

Saat itu sebelum pertandingan berakhir, drama lain tercipta di Perancis. Diego Simione (Argentina) melanggar David Beckham (Inggris). _Priiittt_, wasit asal Denmark meniup peluit, tendangan bebas untuk negeri Pangeran Charles. Nahas, sebelum tendangan dilakukan Inggris, Beckham yang akan bangkit dari terjatuh membalas tekel, Simione terjatuh, terindikasi seolah-olah ditendang keras oleh Bechkam, padahal hanya menyenggol pelan. Tak ayal, kartu merah “dihadiahkan” wasit untuk Beckham.

 

*Dendam Menggelora*

Kini di Piala Dunia 2026, tak ada lagi Maradona, Simione dan Beckham. Yang tersisa dendam membara. Dendam yang diwariskan Beckham kepada Harry Kane cs, dan Lionel Messi dkk mesti meladeninya. Dendam yang mungkin pula diwariskan anak, cucu, cicit tentara kedua negara yang tewas di di Malvinas (Falkland).

 

Maka semifinal Inggris vs Argentina, Kamis dinihari nanti (16/7) pukul 02.00 WIB, tak ubahnya bagai putaran waktu yang mengembalikan kenangan pahit masa lalu. Argentina bertekuk lutut di perang 1982. Inggris takluk di Piala Dunia 1986 dan 1998.

Sama-sama pahit dan menyakitkan, tapi gengsi trofi Piala Dunia masih tiada tandingannya.

 

Kane pasti ingin mengukir sejarah manis, lolos ke final dan membawa negaranya juara dunia kedua kali, melawan pemenang Spanyol vs Perancis. Inggris baru satu kali juara saat jadi tuan rumah 1966 atau 60 tahun lalu.

 

Sedangkan Messi ingin menambah daftar rekor pribadi dan negaranya sebagai juara bertahan. Jika Argentina menang, lolos ke final lalu mengangkat trofi bergengsi, maka tercatat sebagai negara pertama yang berhasil dua kali berturut-turut juara setelah tahun 2022 (_back to back champion_).

 

Itulah sekelumit dinamika sepak bola. Tak sebatas 22 pemain harus berkeringat merebut satu bola. Di luar lapangan telah tercatat sejarah manis, kelam dan pahit yang kadang bermuara pada dendam menggelora. Bukan cuma Argentina dan Inggris yang merasakannya, bisa jadi merasuk ke fans Messi dan Kane di berbagai penjuru dunia.

 

Nah, anda bagaimana? Fans Inggris atau Argentina?

Kalau saya netral saja, tak mau terjerat dendam membara. Lain halnya jika Timnas Indonesia pentas di Piala Dunia, kapan ya ? (*).

 

*_(dirangkum penulis dari berbagai sumber)_*

Loading

Related posts

Leave a Comment