Bandar Lampung (ISN) – Tragedi pilu dialami jurnalis di Bandar Lampung ketika melakukan liputan kerja-kerja jurnalistik di ruang lingkup area Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) berupa pengeroyokan saat ingin mengambil dokumentasi pada proyek pekerjaan pembangunan Gapura di dalam areal Kampus setempat, pada Rabu 26 Agustus 2026 siang.
Kejadian menimpa, dua orang korban jurnalis media lokal Zul dan Ade, dalam keterangannya, mereka mengalami tindakan pengeroyokan itu di saat meminta izin pada pengawas proyek di lokasi setempat pembangunan Gapura UIN RIL.
Zulfikri mengatakan bahwa, insiden terjadi saat mereka menghampiri dan meminta izin dengan salah seorang security di dekat pos jaga proyek setempat. Namun naas, ketika belum selesai memperkenalkan diri, mereka malah disikapi dengan tendensi negatif dari pihak kontraktor yang mengaku bagian dari pengawas pekerjaan.
Dijelaskan Zulfikri, bahwa sebelumnya Ia juga telah melakukan konfirmasi pada pihak Humas UIN RIL untuk diminta tanggapan terkait proyek itu, setelah mendapat keterangannya kemudian Ia mendatangi lokasi untuk mengambil gambar.
“Awalnya saya konfirmasi kepada humas lalu setelah dijawab saya melakukan tinjau lokasi untuk pengambilan gambar dan sudah meminta izin, namun sayangnya respon dari oknum pengawas maupun pelaksana kontraktor agresif,” tuturnya.
Lebih lanjut terangnya, ketika mereka bersikap agresif sempat terjadi perselisihan mulut antara kami dan mereka terkait maksud dan tujuan kami.
“Kami bilang ke mereka bahwa kami dari media minta ijin untuk pengambilan gambar gapura dan sudah koordinasi dengan humas, namun mereka merasa tidak terima dan langsung mendorong kami hingga melakukan pemukulan,” imbuhnya.
Zul menjelaskan, setelah adanya pemukulan yang dilakukan oleh oknum pengawas tersebut, saya ditarik dan sempat tarik tarikan handphone oleh oknum yang lain.
“Ketika satu orang menendang saya dengan menggunakan lutut, saya terjatuh dan rekan oknum yang lain sempat menarik saya dan ingin mengambil handphone saya” tuturnya.
Setelah oknum tersebut menendang saya, saya minta tolong rekan saya adee namun malah dia pun mendapatkan perlakuan yang sama ditendang serta dipegangin oleh beberapa oknum tersebut.
“Setelah jatuh dan saya kabur, dan rekan saya, si Ade saya sempat liat kena tarik dan dipegangin, terus ditendang, udahnya digiring masuk ke pos tempat mereka berjaga, udahnya ditahan tidak boleh kemana-mana selama satu jam lebih,” tukasnya.
Selanjutnya, Ade mengatakan, ketika itu Ia tak bisa melawan apalagi lari, bukannya mendapat informasi ataupun berita Ia malah mendapatkan pukulan, ancaman, penahanan, bahkan tindakan perampasan aset pribadi HP diperiksa, dipaksa menghapus file foto, rekaman, ataupun vidio, hingga sempat ingin dibawa pergi oleh orang-orang tersebut.
“Setelah Izul sempat kabur, saya disitu sudah pasrah saja, apapun yang terjadi selanjutnya. Saat saya ditahan itu, mereka meminta untuk hubungi Izul suruh kembali, atau kalau tidak saya mau diikat dan dibawa ke rumah pribadi salah satu mereka di situ. Total ada sekitar 5-6 orang mereka itu, tapi salah satu orang di situ mengaku bahwa mereka merupakan bagian dari pengawas proyek dari kontraktornya lah,” ujar dia.
“Untungnya, setelah izul mencari bala bantuan, saya langsung dijemput kawan-kawan jurnalis lain, dan udah bisa pulang dengan selamat dan aman setelahnya,” tukas Ade.
Atas tragedi ini, mereka melaporkan langsung ke pihak kepolisian setempat. Aksi premanisme berupa pengeroyokan untuk menghalang-halangi kerja jurnalistik tertuang dalam Laporan Polisi Nomor LP/B/1617/VII/SPKT/POLRESTA Bandar Lampung dan kini sedang ditangani tim penyidik.
Untuk diketahui, Proyek Maksimalisasi Gapura Administrasi dan Umum tersebut memiliki nilai pagu Rp2.458.600.000, dengan HPS Rp1.999.727.587,33, dikerjakan oleh CV Sama Cinta Konstruksi.
Kasus ini, menyita perhatian publik lantaran lokasi tragedi terjadi di tengah-tengah umum tempat terbuka yakni di dalam areal lingkungan Kampus UIN RIL yang patut selazimnya menjadi ruang aman bagi publik. Sementara itu, awak media masih dalam proses konfirmasi lebih lanjut ke pihak-pihak terkait.
![]()
