Intisarinews.co.id – Di tengah ambisi Indonesia menurunkan emisi karbon melalui skema perdagangan karbon, posisi Provinsi Lampung justru terasa paradoksal. Di satu sisi, Lampung memiliki modal ekologis yang tidak kecil, hutan konservasi, kawasan lindung, mangrove, hingga sektor energi dan industri. Namun di sisi lain, potensi tersebut belum terkonversi menjadi kekuatan ekonomi hijau yang nyata. Perdagangan karbon digadang-gadang sebagai terobosan menghadapi krisis iklim sekaligus sumber ekonomi baru. Pemerintah pusat bahkan memproyeksikan potensi ekonomi karbon nasional mencapai ribuan triliun rupiah. Sayangnya, di Lampung, isu karbon masih sebatas wacana teknokratik yang jauh dari prioritas…
![]()
