Intisarinews.co.id – Selama sebulan terakhir, saya seperti sedang menyusuri sebuah sungai panjang. Hulu yang saya susuri adalah narasi-narasi tentang bahasa Samawi dan perjalanan panjang masyarakat Arab, muaranya adalah bahasa yang kita kenal hari ini sebagai bahasa Arab. Di sepanjang perjalanan itu, saya menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan, bahasa Arab tidak pernah hanya “alat komunikasi”. Ia adalah ruang hidup, arena intelektual, dan akhirnya rumah bagi wahyu.
Dari buku Ada Apa dengan Bahasa Arab?, saya menemukan berbagai narasi tentang perjalanan panjang bahasa Arab. Dalam tradisi yang saya baca, bahasa Arab dikaitkan dengan perjalanan sejak masa Nabi Ibrahim, lalu terus mengalir hingga masa sebelum Rasulullah. Ketika masuk ke wilayah agama tauhid, bahasa ini tidak kehilangan jati dirinya. Justru ia semakin tajam.
Lalu saya berpindah ke masa Jahiliyah. Di sini saya menemukan kejutan. Orang-orang yang kemudian disebut “jahiliyah” justru memiliki tradisi bahasa yang luar biasa. Mereka punya pasar ‘Ukazh, lomba syair, tradisi menghafal, dan kepekaan sastra yang tinggi. Mereka tidak merasa bodoh. Mereka hanya belum memiliki aturan yang membatasi. Yang mereka miliki justru kebebasan intelektual yang hampir liar: menghafal, mengkritik, dan menciptakan syair. Buku-buku tentang sastra Jahiliyah menunjukkan betapa kuatnya “otot bahasa” mereka.
Ketika Islam datang, bahasa itu tidak dibuang. Ia justru dipakai. Ada syair, ada natsr, ada khutbah. Para sahabat mulai mengkaji ulang bahasa yang sudah mereka warisi. Namun masalah muncul: tulisan Arab waktu itu masih tanpa harakat dan tanpa titik. Satu kesalahan bacaan bisa mengubah makna secara fatal. Kisah klasik tentang ayat yang semestinya “Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik” tapi dibaca terbalik sehingga seolah-olah Allah berlepas diri dari Rasul-Nya, menjadi peringatan keras betapa pentingnya ketepatan dalam membaca.
Pada masa Abu Bakar, perhatian besar diberikan kepada penghimpunan Al-Qur’an. Sementara persoalan kesalahan bahasa dan kebutuhan untuk merumuskan kaidah semakin menonjol pada perkembangan berikutnya. Seiring meluasnya Islam dan semakin banyaknya penutur non Arab, persoalan kesalahan baca mulai menjadi perhatian. Dalam tradisi sejarah kebahasaan Arab, berbagai upaya kemudian dilakukan untuk membantu menjaga ketepatan pembacaan, sementara nama Abu al-Aswad ad-Du’ali sering ditempatkan dalam narasi awal kodifikasi ilmu Nahwu. Kisah itu sederhana tetapi monumental. Suatu malam, putrinya berkata tentang langit dengan nada takjub, tetapi ungkapannya menimbulkan persoalan gramatikal. Sang ayah tersentak. Dalam tradisi yang berkembang, kisah semacam inilah yang menggambarkan tumbuhnya kesadaran bahwa bahasa tidak lagi cukup dijaga hanya melalui telinga dan kebiasaan, tetapi juga memerlukan kaidah yang dapat dipelajari.
Bagi saya, perjalanan ini mengandung pelajaran yang indah. Bahasa Arab tidak “dibuat sempurna” sejak awal. Ia tumbuh dalam tradisi Jahiliyah yang kuat, memperoleh kedudukan baru ketika menjadi medium wahyu, lalu semakin dijaga ketika umat menghadapi kebutuhan untuk memastikan bahwa makna tidak berubah karena kesalahan bahasa.
Hari ini, ketika kita belajar nahwu dan sharaf, sesungguhnya kita sedang menyentuh warisan panjang itu. Dari gurun yang gersang, dari pasar syair yang ribut, dari kesalahan bacaan yang berbahaya, hingga menjadi bahasa yang dipilih sebagai medium turunnya Al-Qur’an.
Bahasa Arab, pada akhirnya, bukan hanya bahasa. Ia adalah sejarah panjang tentang bagaimana manusia belajar berbicara dengan tepat tentang yang Maha Tinggi.
Kita bukan sekadar sedang belajar bahasa. Kita sedang menerima sebuah warisan dan pada saat yang sama, memikul tanggung jawab untuk menjaganya.
sebuah bahasa tidak menjadi besar hanya karena banyak orang menggunakannya. Ia menjadi besar ketika manusia bersedia menjaga apa yang dibawanya.
Bahasa Arab membawa kata. Kata membawa makna. Dan makna, pada akhirnya, adalah sesuatu yang tidak boleh kita biarkan hilang.
![]()
